Kamis, 09 Desember 2010

Makna Konotatif Kolektif Henry Guntur Tarigan

Tarigan (1985: 60--79) mengklasifikasikan makna konotatif kolektif sebagai berikut: (1) konotasi tinggi, (2) konotasi ramah, (3) konotasi berbahaya, (4) konotasi tidak pantas, (5) konotasi tidak enak, (6) konotasi kasar, (7) konotasi keras, (8) konotasi bentukan sekolah, (9) konotasi kanak-kanak, (10) konotasi hipokoristik, dan (11) konotasi bentuk nonsens
1 Konotasi Tinggi
Sudah merupakan hal yang biasa terjadi bahwa kata-kata sastra dan kata-kata klasik lebih indah dan anggun terdengar oleh telinga umum. Oleh karena itu, kata-kata tersebut mendapat konotasi atau nilai rasa tinggi atau konotasi baik. Biasanya kata-kata asing yang kurang dipahami maknanya secara umum, secara tidak langsung dinilai memiliki nilai rasa tinggi. Berikut beberapa contoh kata-kata yang mengandung nilai rasa tinggi:
aktif ‘giat’
bahtera ‘perahu, kapal’
ejawantah ‘penjelmaan’
eksistensi ‘kehidupan’
fantasi ‘bayangan’

2 Konotasi Ramah
Ketika kita berhubungan dengan orang lain dalam lingkungan masyarakat, dalam berkomunikasi seseorang atau sekelompok masyarakat sering menggunakan bahasa daerah ataupun dialek untuk menyatakan hal-hal yang langsung berhubungan dengan kehidupan sehari-hari, karena dengan menggunakan bahasa daerah justru lebih mudah, lebih cepat terasa akrab, dan ramah daripada menggunakan bahasa Indonesia yang terkesan kaku dan terlalu formal. Jadi, dapat disimpulkan kata-kata yang memiliki makna konotasi ramah biasanya terdapat dalam bahasa daerah. Berikut beberapa contoh kata-kata yang memiliki makna konotasi ramah:
nongkrong ‘duduk, jongkok’
nonsens ‘omong kosong’
ngobrol ‘bercakap-cakap’
longok ‘tengok, jenguk’
ganteng ‘gagah, gaya’

3 Konotasi Berbahaya
Kata-kata yang memiliki makna konotasi berbahaya erat sekali berhubungan dengan kepercayaan masyarakat dengan hal-hal yang bersifat magis. Untuk itu, dalam lingkungan pergaulan masyarakat seseorang harus berhati-hati dalam mengucapkan suatu kata agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, yang dapat mendatangkan kesulitan. Misalnya, kata harimau bersifat tabu dan dilarang untuk diucapkan dalam suatu daerah terutama di dalam hutan. Karena apabila kata tersebut diucapkan, ditakutkan akan bertemu dengan harimau yang sebenarnya. Untuk menghindari hal tersebut, kata harimau diganti dengan kata nenek, kiai, dan lain-lain yang tidak memiliki konotasi berbahaya. Jadi, kata harimau memiliki makna konotasi berbahaya.

4 Konotasi Tidak Pantas
Berinteraksi dalam lingkungan masyarakat, seseorang sebelum mengucapkan suatu kata hendaknya dipikir terlebih dahulu apakah kata tersebut pantas atau tidak diucapkan. Karena tidak semua kata memiliki nilai yang pantas untuk diucapkan, dirasa memiliki makna yang negatif atau tidak pantas. Pemakaian dan pengucapan kata-kata yang berkonotasi tidak pantas mengakibatkan menyinggung perasaan seseorang. Beberapa contoh kata-kata yang memiliki makna konotasi tidak pantas, beranak, bunting, bini, laki, mampus, rakus, berak, tahi, kontol, puki, dan lain-lain.

5 Konotasi Tidak Enak
Jika konotasi tidak pantas membicarakan kata-kata yang memang tidak sepantasnya untuk diucapkan, maka konotasi tidak enak membicarakan kata-kata yang memiliki rasa tidak enak untuk didengar oleh telinga. Berikut contoh kata-kata yang memiliki makna konotasi tidak enak, orang udik (orang desa), keluyuran (jalan-jalan), royal (menghambur-hampurkan), licik (pandai), lacur (celaka, sial, sundal), dan lain-lain.

6 Konotasi Kasar
Ada kalanya kata-kata yang dipakai oleh rakyat jelata terdengar kasar dan mendapat nilai rasa kasar. Biasanya kata-kata tersebut berasal dari suatu dialek dan akibat pengaruh dari budaya luar. Misalnya, kata mampus, jagoan, mani, tetek, gelandangan, pelacur, buta huruf, babu, kacung, dan lain-lain.

7 Konotasi Keras
Untuk melebih-lebihkan suatu keadaan, biasanya seseorang memakai kata-kata atau ungkapan-ungkapan. Jika ditinjau dari segi arti maka hal tersebut dapat disebut hiperbola, dan kalau dari segi nilai rasa atau konotasi disebut konotasi keras. Biasanya kata-kata atau ungkapan yang memiliki konotasi keras, lebih suka diucapkan orang-orang, karena sebagian masyarakat dalam menegur atau menyindir seseorang secara tidak langsung lebih suka melalui kata-kata atau ungkapan yang bermakna konotasi keras daripada secara langsung berterus-terang ke inti permasalahan, dengan alasan untuk menghindari suatu perselisihan. Kata-kata yang memiliki konotasi keras tidak hanya bermakna negatif, tetapi juga bermakna positif seperti memuji seseorang atau menggambarkan sesuatu yang luar biasa. Beberapa contoh kata-kata atau ungkapan bermakna konotasi keras:
indahnya tak terlukiskan dengan kata-kata
sulitnya setengah mati
jurang kematian
lembah kemelaratan
mengharapkan sesuap nasi

8 Konotasi Bentukan Sekolah
Nilai rasa yang terdapat dalam konotasi bentukan sekolah atau Conotation of learned form (nilai rasa yang dipelajari di sekolah) dengan nilai rasa biasa, tidak dapat dimaknai secara jelas. Tetapi karena frekuensi penggunaan nilai rasa biasa agak luas, maka dapat disejajarkan dengan nilai rasa bentukan sekolah. Contohnya dalam kehidupan sehari-hari, kalau orang biasa mengatakan: Saya datang tengah hari, maka orang terpelajar yang telah diberikan pendidikan di sekolah, akan mengatakan: Saya datang pukul 12.00 tepat siang. Contoh kedua merupakan konotasi bentukan sekolah, sedangkan contoh pertama merupakan nilai rasa biasa.



9 Konotasi Kanak-kanak
Nilai rasa konotasi kanak-kanak biasanya terdapat dalam dunia kanak-kanak, tetapi merupakan suatu kenyataan bahwa orang tua pun sering pula turut menggunakannya. Beberapa contoh konotasi kanak-kanak, misalnya papa, mama, mimi, bobo, nyonyo.

10 Konotasi Hipokoristik
Konotasi hipokoristik atau dalam bahasa Inggrisnya disebut dengan istilah pet-name or hypochoristic connotation, sering kali dipakai dalam dunia kanak-kanak yaitu sebutan nama kanak-kanak yang dipendekkan lalu diulang. Contoh, kata Lolo, Lili, Lala, Nana, Aa, Uu, dan lain-lain.

11 Konotasi Bentuk Nonsens
Konotasi bentuk nonsens atau dalam bahasa Inggrisnya disebut dengan istilah connotation of nonsens-form, saat ini walaupun sudah lazim digunakan tetapi sama sekali tidak mengandung arti. Contoh, tra-la-la, pam-pam-pam, dan na-nana-nana.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar