Kamis, 16 Juni 2011

Penelitian Tindakan Kelas = Kuantitatif

Penelitian Tindakan Kelas atau yang lebih kita kenal dengan PTK, akhir-akhir ini sering menjadi perbincangan dari pihak pendidik terutama pendidik yang mengajar di Perguruan Tinggi (swasta/negeri). Sangat menarik, karena melalui PTK kita dapat memperbaiki dan pengembangan profesi kita sebagai pendidik untuk ke depannya.

Konsep pemahaman mengenai PTK sangat banyak bahkan beragam, namun tetap saja memiliki karakteristik dan tujuan yang sama.

Karakteristik dan tujuan PTK adalah: (1) Memecahkan masalah, (2) Meningkatkan mutu (guru dan siswa), (3) Masalah yang diteliti adalah masalah yang rill atau nyata, (4) Konsep dalam PTK diterapkan melalui urutan yang terdiri dari beberapa tahap berdaur ulang (siklus), (5) Menerapkan tindakan tertentu untuk memperbaiki, (6) Pengkajian terhadap dampak tindakan yang sebelumnya dilakukan, (6) Kolaborator, (7)Refleksi.

Jika sebuah penelitian tidak mengindahkan satu di antara karakteristik dan tujuan dari PTK di atas, maka dapat disimpulkan bahwa penelitian tersebut bukan lah PTK yang sebenarnya.

Saya rasa, setiap pendidik mengetahui dan memahami hal tersebut. Namun, pada kenyataan justru sebaliknya. Masih ada sebagian pendidik yang salah mengartikan PTK, bahkan menyamakannya dengan kuantitatif. Mengapa demikian, karena mereka menganggap dalam PTK yang menjadi sumber data utama hanyalah siswa, sehingga hasil penelitian terfokus pada hasil tes unjuk kerja siswa. Dengan kata lain, observasi dan kolaborator tidak dibutuhkan. Jika menggunakan observasi terhadap guru, mereka menganggap justru hal tersebut menguji kompetensi guru. Siklus tidak difokuskan, sehingga pertanyaan penelitian diajukan dengan kata "APAKAH", apalagi menggunakan hipotesis tindakan. Sebagian mengganggap, dengan menggunakan istilah hipotesis berarti penelitian itu mengutamakan statistik (angka-angka), jadi tidak perlu data kualitatifnya.

Sungguh sangat disayangkan, kita seorang pendidik yang seharusnya memperbaiki yang salah tetapi NGOTOT dengan yang salah tersebut agar dibenarkan.

Tidak salahnya jika kita ragu akan sesuatu kita kembali merujuk ke buku atau bertanya pada seseorang yang ahli di bidang tersebut.

Jika terus seperti ini, tidak hanya berdosa telah mengajarkan yang salah tetapi tanpa kita sadari kita telah menjerumuskan calon-calon pendidik ke jurang kehancuran.

Referensi:
Kunandar.2010. Langkah Mudah Penelitian Tindakan Kelas Sebagai Pengembangan Profesi Guru. Jakarta: Rajawali Press
READ MORE - Penelitian Tindakan Kelas = Kuantitatif

Jumat, 27 Mei 2011

How Can I Not Love You

Cannot Touch, Cannot Hold

Cannot Be Together

Cannot Love, Cannot Kiss

Cannot Have Each Other

Must Be Strong

And We Must Let Go

Cannot Say What Our Hearts Must Know
{Chorus}

How Can I Not Love You

What Do I Tell My Heart

When Do I Not Want You Here In My Arms

How Does One Walkz Away From All Of The Memories

How Do I Not Miss You When You Are Gone

Cannot Dream

Cannot Share Sweet And Tender Moments

Cannot Feel How We Feel

Must Pretend Its over

Must Be Brave

And We Must Go On

Must Not Say What We've Known All Along

{Chorus}

How Can I Not Love You

What Do I Tell My Heart

When Do I Not Want You Here In My Arms

How Does One Walkz Away From All Of The Memories

How Do I Not Miss You When You Are Gone

How Can I Not Love You

Must Be Brave

And We Must Be Strong

Cannot Say What We've Known All Along

{Chorus}

How Can I Not Love You

What Do I Tell My Heart

When Do I Not Want You Here In My Arms

How Does One Walkz Away From All Of The Memories

How Do I Not Miss You When You Are Gone

How Can I Not Love You When Are Gone
READ MORE - How Can I Not Love You

Jumat, 25 Maret 2011

Broken Vow Artist: Lara Fabian

Mmm

Tell me her name
I want to know
The way she looks
And where you go
I need to see her face
I need to understand
Why you and I came to an end

Tell me again
I want to hear
Who broke my faith in all these years
Who lays with you at night
When I'm here all alone
Remembering when I was your own

I'll let you go
I'll let you fly
Why do I keep on asking why
I'll let you go
Now that I found
A way to keep somehow
More than a broken vow

Tell me the words I never said
Show me the tears you never shed
Give me the touch
That one you promised to be mine
Or has it vanished for all time

I'll let you go
I'll let you fly
Why do I keep on asking why
I'll let you go
Now that I found
A way to keep somehow
More than a broken vow

I close my eyes
And dream of you and I
And then I realize
There's more to life than only bitterness and lies
I close my eyes

I'd give away my soul
To hold you once again
And never let this promise end

I'll let you go
I'll let you fly
Why do I keep on asking why
I'll let you go
Now that I found
A way to keep somehow
More than a broken vow, mmm
READ MORE - Broken Vow Artist: Lara Fabian

Selasa, 22 Maret 2011

ILHAM ATAU IDE KETIKA HENDAK MENULIS PUISI

I. PEMBUKA
Banyak kalangan mengatakan bahwa menulis puisi itu tidak lah mudah dan harus ditunjang oleh bakat dan kemampuan. Pernyataan tersebut banyak dikemukakan oleh kalangan pelajar atau peserta didik. Peserta didik mengeluhkan kesulitan ketika diminta oleh guru atau dosennya untuk menulis puisi dalam kegiatan pembelajaran atau perkuliahan. Salah satu kesulitan yang dialami mereka krtika hendak menulis puisi adalah ketika mencari ilham atau ide untuk sebuah puisi. Untuk itu, melalui makalah sederhana ini akan dikemukakan tentang bagaimana cara mencari ilham atau ide dalam menulis puisi.
II. PEMBAHASAN
Menurut Kamus Istilah Sastra, yang disebut puisi itu adalah; ragam sastra yang bahasanya terikat oleh irama, matra, rima, serta penyusunan larik dan bait. Berdasarkan pengertian tersebut, sebuah puisi yang ditulis atau diciptakan oleh pengarang atau penyair dibatasi dengan ketentuan-ketentuan atau aturan-aturan dalam menulis puisi. Namun, seiring perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi aturan-aturan tersebut tidak seketat seperti pada awal masa pertumbuhan puisi di waktu lampau. Puisi yang tidak terikat tersebut lebih kita kenal dengan istilah puisi modern.
Para pujangga Angkatan 45 berpendirian, bahwa seni tidak dapat tercipta tanpa ilham. Mereka pun berpendapat bahwa ilham itu tidak bisa dipaksakan, akan tetapi haruslah muncul dengan sendirinya diiringi dengan rasa cinta terhadap puisi itu sendiri. Hal tersebut dikarenakan, seperti karya tulis lainnya puisi pun juga memiliki hubungan yang teramat erat dengan sebentuk kecintaan dan kegiatan membaca. Namun di samping pendapat tersebut, ada juga pendapat lain yang berbeda. “Di balik sikap yang mengatakan bahwa ilham itu mesti datang dengan sendirinya, sering orang lupa bahwa Chairil Anwar telah mengajarkan, seniman itu tidak boleh duduk termangu menunggu ilham jatuh dari langit.”
Sebagaimana pengarang-pengarang terkenal, mereka mempunyai kebiasaan memerhatikan keadaan sekelilingnya, lalu mencatatnya, kemudian menulisnya dengan segera. Mereka pun mencatat pengalaman-pengalamannya, dan membiasakan membaca karya-karya orang lain. Selain itu, Chairil pun menganjurkan supaya suka menerjemahkan karya-karya yang baik, entah itu dari bahasa apapun. Kebiasaan seperti itu akan memunculkan ide baru yang terilhami oleh karya orang lain yang dibacanya.
Memang energi terbesar untuk tetap terus-menerus menulis puisi adalah kecintaan terhadap puisi itu sendiri. Seseorang yang menulis puisi karena didorong oleh rasa suka atau cinta terhadap puisi tentunya akan tetap menulis puisi meski puisinya tidak pernah menembus seleksi redaktur sebuah media massa atau majalah sastra. Seorang pemuda yang terus menulis puisi karena cinta terhadap puisi, tentu akan terus menciptakan puisi meski puisi-puisinya tidak pernah mendapatkan pujian dari wanita pujaannya, walau puisinya tidak pernah mendapatkan tepuk tangan riuh-rendah dari lawan jenisnya
Namun, jika ingin menghasilkan puisi yang baik, tentulah modal cinta saja tak cukup. Seorang penyair yang tengah dicekam keinginan untuk terus-menerus menghasilkan puisi yang baik tentulah akan terus menulis, belajar, menulis lagi, belajar lagi, menulis, belajar, menulis terus dan terus-menerus belajar. Selain itu, yang tak kalah pentingnya adalah membaca. Dalam hal ini, yang lebih ditekankan adalah membaca puisi yang bermutu atau puisi-puisi yang dinyatakan sebagai pemenang sebuah perlombaan yang kredibel alias bermutu pula. Logikanya siapa yang membiasakan diri membaca bacaan-bacaan yang baik maka akan menghasilkan tulisan yang baik pula.
Begitu juga dengan puisi. Siapa yang membiasakan diri membaca puisi-puisi yang bermutu maka sangat besar kemungkinannya akan menghasilkan puisi-puisi yang bermutu pula. Maksudnya, membaca yang dimaksud dalam tulisan ini bukanlah membaca yang asal baca karena membiasakan diri untuk membaca bacaan yang tak bermutu, pada dasarnya sama saja dengan mengantarkan diri untuk menjadi penulis yang tak bermutu pula.
Jadi, jika kita tidak memiliki kecintaan terhadap puisi, maka kita akan menemui beberapa kesulitan. Tak hanya kesulitan untuk menelurkan sebuah puisi yang baik, namun lebih daripada itu kita akan kesulitan menikmati sebuah puisi. Tanpa kecintaan, rasa-rasanya kita tidak akan pernah tahu dimana letak nikmatnya mencipta dan membaca puisi.
Seorang penikmat apapun, memang tidaklah dituntut harus bisa menerangkan serinci mungkin kenikmatannya atas sesuatu. Seorang penikmat teh hijau, tidaklah harus bisa menjelaskan sedetail-detailnya kenikmatan meminum teh hijau. Tetapi paling tidak dia tahu mana teh hijau yang nikmat dan mana yang tidak. Setidak-tidaknya dia bisa menikmati enaknya teh hijau. Begitu pula dengan penikmat fotografi, penikmat film, penikmat novel, puisi, kolom, cerpen dan lain-lain.
Tanpa kecintaan terhadap puisi, menulis dan membaca puisi hanya akan menjadi siksaan, bukan lagi menjadi sesuatu yang ingin diulang dan diulang lagi. Tanpa kecintaan terhadap puisi, teori atau tips paling manjur pun tak akan berarti apa-apa, tak akan bisa memberi pengaruh apa-apa terhadap seseorang yang hanya ingin jadi penyair tanpa rasa cinta puisi. Tanpa kecintaan terhadap puisi, anjuran yang berasal dari penyair kelas dunia pun tak akan berarti apa-apa, karena pada dasarnya kecintaan terhadap puisilah yang mendorong seseorang terus belajar menghasilkan puisi yang baik.
Bila problema mendasar seperti cinta dan bacaan tersebut belum tuntas, maka sulitlah bagi kita untuk mendiskusikan hal-hal teknis menyangkut penulisan puisi yang baik. Artinya, segala tips dan segala teori teknis penulisan puisi hanya akan berarti jika seorang penulis puisi memiliki kecintaan dan bacaan yang sama beresnya. Sederhananya, jika seorang penulis puisi memiliki kecintaan yang tak beres dan bacaan yang tak beres, maka sudah bisa ditebak puisi yang dihasilkannya juga takkan beres.
III. PENUTUP
Dari uraian singkat di atas, kita mendapat mengetahui bahwa ilham untuk menciptakan sebuah puisi tidak hanya datang secara tiba-tiba tetapi dapat kita temukan dari kegiatan membaca dan menulis. Namun, sebelumnya kita harus menumbuhkan rasa cinta terhadap puisi.
DAFTAR RUJUKAN
Hadiwa, Atep J. Suatu Catatan Kreativitas Menuslis Puisi Bagi Siswa. (http://atepjs.wordpress.com/2008/09/10/kekuatan-dalam-puisi-adalah-%E2%80%98ilham%E2%80%99/). Diunduh tanggal 24 November 2010.
Martadi, Rosdi Bahtiar. Energi Cinta dan Filsafat Tinja: Sedikit Tips Penulisan Puisi Bagi Penyair Muda. (http://ketanduren.blog.com/2009/01/20/energi-cinta-dan-filsafat-tinja-sedikit-tips-penulisan-puisi-bagi-penyair-pemula/). Diunduh tanggal 24 November 2010.
READ MORE - ILHAM ATAU IDE KETIKA HENDAK MENULIS PUISI

Minggu, 13 Maret 2011

Silabus Sejarah Sastra

SILABUS MATA KULIAH

A. Informasi Umum
1. Nama Mata Kuliah : Sejarah Sastra Indonesia
2. Bobot Mata Kuliah : 2 SKS
3. Pembina Mata Kuliah : Anggia Pratiwi, M.Pd.

B. Deskripsi Mata Kuliah
Perkuliahan ini diisi dengan pembahasan tentang kaitan antara sejarah sastra dengan teori sastra dan kritik sastra, sejarah sastra sebagi salah satu cabang ilmu sastra. Pembahasan tentang perkulihan ini dilengkapi dengan penganalisisan perkembangan kesusastraan Indonesia terutama berkenaan dengan sastrawan, bentuk sastra, tema, aliran kesusastraan, pengaruh zaman, dan berbagai peristiwa kesusastraan Indonesia.

C. Tujuan Perkuliahan
Tujuan perkuliahan ini agar mahasiswa dapat mengusai tentang sejarah sastra yang dilengkapi dengan penganalisisan perkembangan kesusastraan Indonesia berkenaan dengan sastrawan, bentuk sastra, unsur intrinsik dan unsur ekstrinsik.

D. Evaluasi
Nilai akhir yang dapat diperoleh mahasiswa berasal dari nilai:
Kehadiran : 10%
Partisipasi Aktif : 10 %
Sikap : 20 %
Ujian Tengah Semester : 30 %
Ujian Semester : 30 %

E. Bahan Bacaan
Atmazaki. 2005. Teori Sastra: Teori dan Terapan. Padang Citra Budaya.
Hasanuddin WS. 2002. Membaca dan Menilai Sajak: Pengantar Pengkajian dan Interpretasi. Bandung: Angkasa.
Hasanuddin WS. Dkk. 2004. Ensiklopedi Sastra Indonesia. Bandung: Angkasa.
Luxemburg, Jan Van dkk. 1989. Pengantar Ilmu Sastra. Diterjemahkan oleh Dick Hartoko. Jakarta: Gramedia.
Rosidi, Ajib. 1991. Ikhtisar Sejarah Sastra Indonesia. Bandung: Binacipta.
Nurgintoro, Burhaniddin. 1998. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakkarta: Gadjah Mada Press.
Teeuw. 1988. Sastra dan Ilmu Sastra: Pengantar Teori Sastra. Jakarta: Pustaka Jaya.
Waluyo, Herman. J. 1991. Teori dan Apresiasi Puisi. Jakarta: Erlangga.
Muhardi, Hasanuddin. WS. Prosedur Analisis Fiksi: Kajian Struktural. Padang: Citra Budaya.
Moeliyono, Anton M. 2005. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta Balai Pustaka.
Yudiono. 2007. Pengantar Sejarah Sastra indonesia. Jakarta: Grasindo.

F. Materi Perkuliahan
No Materi perkuliahan
1 Pendahuluan
Pengantar silabus
2 Pengertian sejarah, sejarah sastra, sejarah sastra Indonesia, dan periodesasi sejarah sastra Indonesia.
3 Sekolah dan pers, angkatan balai pustaka, sejarah kelahiran dan tujuan pendirian serta karya-karya balai pustaka.
4 Karya-karya penting balai pustaka: struktur intrinsik dan ekstrinsik
5 Angkatan pujangga baru sejarah kelahiran perbedaan dengan balai pustaka dan Keimin Bunka Shidosho.
6 Karya-karya penting pujangga baru: struktur intrinsik dan ekstrinsik
7 Angkatan 45 sejarah perkembangan, surat kepercayaan gelanggang, Lembaga Kebudayaan Masyarakat, Majalah kisah, dan manifestasi kebudayaan.
8 MID
9 Karya-karya penting angkatan 45: struktur intrinsik dan ektrinsik
10 Sastra Indonesia angkatan 66an: Majalah Horison, Sastra dan HB Jassin, Pusat Bahasa, Fakultas Sastra, Sastra Indonesia di Mancanegara, Dewan Kesenian Jakarta, Sastra Populer, Kritik dan Esai, serta Pakar Sastra.
11 Karya-karya penting angkatan 66-an: struktur intrinsik dan ekstrinsik
12 Karya-karya penting angkatan 1980-2000-an: Krisis Multidimensi, Sastra Pembebasan, dan Masa Depan Sastra Indonesia.
13 Karya-karya penting angkatan 2000-sekarang: struktur intrinsik dan ekstrinsik
14 Pembahasan (karakteristik) dan simpulan angkatan 1980-2000-an dan 2000-sekarang: Dirangkum dan disampaikan secara lisan.
15 Pembahasan (karakteristik) dan simpulan angkatan 1980-2000-an dan 2000-sekarang: Dirangkum dan disampaikan secara lisan.
16 Pembahasan (karakteristik) dan simpulan angkatan 1980-2000-an dan 2000-sekarang: Dirangkum dan disampaikan secara lisan.
17 Pembahasan Soal Ujian Akhir Semester
18 Ujian Akhir Semester

G. Aturan Perkuliahan
1. Mahasiswa harus memiliki kehadiran 75 % (12 kali pertemuan) sebagai prasyarat mengikuti ujian akhir semester.
2. Mahasiswa dianjurkan menyerahkan tugas tepat waktu sesuai perjanjian yang telah disepakati. Jika, ada yang melanggar maka mahasiswa harus siap menerima konsekuensi.
3. Jika, mahasiswa datang terlambat maka pada daftar hadir akan memberi tanda T pada daftar hadir mahasiswa.
4. Dalam proses perkuliahan handphone dinonaktifkan atau disilentkan.
5. Keterlambatan hanya diberi toleransi 15 menit.
H. Penutup
Demikian saja silabus mata kuliah keterampilan berbicara ini dirancang. Jika, terjadi kesalahan pada pratiknya nanti akan disepakati kembali dengan mahasiswa.


I. Tugas
Menganalisis satu novel berdasarkan angkatan dari setiap karya sastra. Format penulisan makalah yaitu pendahuluan, kajian teori, analisis singkat, penutup, dan lampiran. Pendahuluan, berisi identitas novel yang meliputi judul novel, pengarang, tahun terbit, kota terbit, penyunting buku, editor, gambaran umum isi novel, dan lain-lain. Pada pendahuluan juga berisi gambaran umum isi makalah: unsur intrinsik dan ekstrinsik karya sastra. Kajian teori, berisi masalah definisi, karakteristik dari unsur intrinsik dan ekstrinsik. Analisisi singkat, berisi kutipan-kutipan novel yang menunjukkan unsur intrinsik dan ekstinsik serta penjelasan mengapa itu dikatakan unsur intrinsik dan ekstrinsik. Penutup, berisi kesimpulan dari apa yang telah dikelaskan sehubungan dengan makalah. Lampiran, berisi sinopsis dari novel. Bentuk penulisan makalah: diketik ½ spasi, ukuran tulisan 12, dan bentuk huruf time new roman.
READ MORE - Silabus Sejarah Sastra

Sabtu, 12 Maret 2011

Silabus Analisis Wacana

SILABUS MATAKULIAH ANALISIS WACANA

Program Studi : Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Kode Matakuliah : IND 6308
Nama Matakuliah : Analisis Wacana
Jumlah SKS : 3 SKS
Semester : VI
Matakuliah Prasyarat : -
Deskripsi Matakuliah : Matakuliah ini berisi tentang pengertian wacana, kedudukan wacana dalam satuan linguistik, unsur internal dan eksternal wacana, kedudukan struktur wacana, aspek keutuhan wacana (kohesi dan koherensi), tema-topik-judul, topikalisasi, klasifikasi wacana (berdasarkan: bentuk, media penyampaian, jumlah penutur, isi, dan gaya dan tujuan), penerapan prinsip analogi dan penafsiran lokal, kedudukan analisis wacana, dan penerapan metode analisis wacana.
Standar Kompetensi : Mampu menyusun berbagai wacana

Kompetensi Dasar Indikator Pengalaman Belajar Materi Ajar Waktu Alat/Bahan/sumber Belajar Penilaian
1.
mampu menjelaskan pengertian dan lingkup wacana Mampu menjelaskan istilah wacana

Mampu Membedakan wacana dengan discursus

Mampu memetakan posisi wacana dalam satuan lingustik Membaca paparan tentang istilah wacana

Merangkum istilah wacana

Membedakan wacana dengan discursus

memetakan posisi wacana dalam satuan lingustik Etimologi Istilah Wacana

Wacana, Discourse, dan Discursus

Kedudukan Wacana dalam Satuan Linguistik G. Tarigan, H. 1993. Pengajaran Wacana. Bandung: Angkasa. Halaman 21-29

Mulyana. 2005. Kajian Wacana: Teori, Metode, dan Aplikasi Prinsip-prinsip Analisis Wacana. Yogyakarta: Tiara Wacana. Cetakan I. Halaman 3-6.

Praptomo Baryadi, I. 2002. Dasar-dasar Analisis Wacana dan Ilmu Bahasa. Yogyakarta: Pustaka Gondhosuli. Halaman 1-4. Lisan/tulis (Menjelaskan istilah wacana)
2.
mampu memerikan unsur-unsur wacana (internal) Mampu mengidentifikasikan unsur-unsur internal wacana

Mampu mencontohkan unsur-unsur internal tersebut dalam wacana Mengumpulkan wacana dari koran atau majalah

Membaca wacana
mengidentifikasikan unsur-unsur internal wacana

mencontohkan kembali unsur-unsur internal tersebut dalam wacana yang mereka tulis Unsur-unsur Internal Wacana (Kata dan Kalimat serta Teks dan Konteks) Mulyana, 2005: 7-24 Tugas Individu: Menyajikan perian unsur internal wacana
3.
mampu memerikan unsur-unsur wacana (eksternal) Mampu mengidentifikasikan unsur-unsur eksternal wacana

Mampu mencontohkan unsur-unsur eksternal tersebut dalam wacana mengidentifikasikan unsur-unsur eksternal wacana

mencontohkan unsur-unsur eksternal tersebut dalam wacana Unsur Eksternal Wacana ( Implikatur, Presuposisi, Referensi, Inferensi, dan Konteks) Mulyana, 2005: 7-24 Tugas Individu: Memanfaatkan wacana yang sudah mereka kumpulkan lalu diperikan berdasarkan unsur eksternalnya
4.
menjelaskan pengertian keutuhan struktur wacana

menandai aspek kohesi

mencontohkan aspek kohesi dalam wacana Mampu menjelaskan pengertian keutuhan struktur wacana

Mampu mencontohkan struktur wacana

Mampu menandai aspek kohesi

Mampu mencontohkan aspek kohesi dalam wacana Mengumpulkan contoh wacana (lisan/tulis)

Membuat transkripsi ortografis terhadap wacana tulis

Membaca paparan tentang keutuhan struktur wacana

menjelaskan pengertian keutuhan struktur wacana

mencontohkan struktur wacana

menandai aspek kohesi

mencontohkan aspek kohesi dalam wacana Keutuhan Struktur Wacana

Aspek-aspek Keutuhan Wacana: Kohesi Mulyana, 2005: 25-36 Tugas Individu: Mencontohkan aspek kohesi dan menandainya berdasarkan wacana yang mereka kumpulkan
5.
menjelaskan pengertian keutuhan struktur wacana

menandai aspek koherensi

mencontohkan aspek koherensi dalam wacana Mampu menjelaskan pengertian keutuhan struktur wacana

Mampu mencontohkan struktur wacana

Mampu menandai aspek koherensi

Mampu mencontohkan aspek koherensi dalam wacana Membaca paparan tentang pengertian keutuhan struktur wacana

Membaca ulang wacana yang mereka kumpulkan sebelumnya

Menggunakan wacana tersebut untuk mencontohkan struktur wacana

menandai aspek koherensi

mencontohkan aspek koherensi dalam wacana berdasarkan wacana yang mereka tulis sendiri Keutuhan Struktur Wacana

Aspek-aspek Keutuhan Wacana: Koherensi Mulyana, 2005: 17-39 Tugas Individu:
Menulis wacana lalu mencontohkan aspek koherensi dalam wacana tersebut
6.
mengidentifikasi tema, topik, dan judul

mencontohkan tema, topik, dan judul Mampu mengidentifikasi tema, topik, dan judul

Mampu mencontohkan tema, topik, dan judul Membaca tentang pengertian tema, topik, dan judul

mengidentifikasi tema, topik, dan judul


mencontohkan tema, topik, dan judul Tema, Topik, dan Judul Wacana

Mulyana, 2005: 37-45

Praptomo Baryadi, 2002: 54-68 Tugas Kelompok:
Pembacaan Wacana Tulis yang tidak berjudul lalu bertugas membuat judul, identifikasi topik dan tema
7.
mempraktikkan proses topikalisasi
dalam wacana Mampu mempraktikkan proses topikalisasi
dalam wacana Membaca wacana yang sudah mereka kumpulkan

mempraktikkan proses topikalisasi
dalam wacana Topikalisasi Praptomo Baryadi, 2002: 54-68 Tugas Individu:
Praktik pembuatan topik baru dengan memanfaatkan wacana sebelumnya
8.
Ujian Tengah Semester (UTS) Identifikasi Kohesi, Koherensi, Tema, dan Topik..
Praktik Penopikan
9.
menjelaskan wacana berdasarkan bentuk

mengidentifikasi
wacana berdasarkan bentuk

mencontohkan jenis wacana berdasarkan bentuk Mampu menjelaskan wacana berdasarkan bentuk

Mampu mengidentifikasi
wacana berdasarkan bentuk

mampu mencontohkan jenis wacana berdasarkan bentuk Membaca tentang klasifikasi wacana berdasarkan bentuk

Membaca wacana yang mereka kumpulkan

mengidentifikasi
wacana berdasarkan bentuk

mencontohkan jenis wacana berdasarkan bentuk Klasifikasi Wacana berdasarkan Bentuk: (Wacana Naratif, Prosedural, Ekspositori, Hortatori, Ekspositorik, dan Deskriptif)
Mulyana, 2005: 47-51 Tugas Individu: Menggolongkan wacana yang mereka kumpulkan berdasarkan bentuknya dan mengidentifikasi penandanya
10.
mencirikan dan mencontohkan wacana berdasarkan media penyampaian Mampu mencirikan wacana lisan dan tulisan

mampu mencontohkan wacana lisan dan tulisan mencirikan wacana lisan dan tulisan

mencontohkan wacana lisan dan tulisan Wacana Tulis dan Lisan Mulyana, 2005: 51-52 Tugas Individu: Identifikasi wacana tulis dan lisan dari wacana yang mereka kumpulkan
11.
mencirikan dan mencontohkan wacana berdasarkan jumlah penutur Mampu mencirikan wacana monolog dan dialog

mampu mencontohkan wacana monolog dan dialog Membaca wacana monolog dan dialog yang mereka kumpulkan

mencirikan wacana monolog dan dialog

mencontohkan sendiri wacana monolog dan dialog Wacana Monolog dan Dialog Mulyana, 2005: 53 Tugas Individu: Identifikasi Wacana Dialog dan Monolog dari wacana yang mereka kumpulkan
12.

mengidentifikasi wacana fiksi dan nonfiksi

mengidentifikasi wacana berdasarkan isi

mengindetifikasi wacana berdasarkan gaya dan tujuan Mampu mencirikan wacana fiksi dan nonfiksi

mampu mencontohkan wacana fiksi dan nonfiksi

Mampu mencirikan politik, sosial, ekonomi, budaya, hukum dan kriminalitas, dan olah raga dan kesehatan

Mampu mencontohkan wacana politik, sosial, ekonomi, budaya, hukum dan kriminalitas, dan olah raga dan kesehatan


Mampu mencirikan wacana iklan

mampu mencontohkan wacana iklan Membaca wacana fiksi dan nonfiksi

mencontohkan wacana fiksi dan nonfiksi

mencirikan wacana fiksi dan nonfiksi

membaca wacana politik, ekonomi, budaya, hukum dan kriminalitas, dan olah raga dan kesehatan

mencirikan politik, sosial, ekonomi, budaya, hukum dan kriminalitas, dan olah raga dan kesehatan

mencontohkan wacana politik, sosial, ekonomi, budaya, hukum dan kriminalitas, dan olah raga dan kesehatan


mencirikan wacana iklan

mencontohkan wacana iklan Wacana berdasarkan sifat (: Fiksi dan Nonfiksi)

Wacana berdasarkan Isi (:
Politik, Sosial, Ekonomi, Budaya, Hukum dan Kriminalitas, dan Olahraga dan Kesehatan)

Wacana Iklan Mulyana, 2005: 54-55



Mulayana, 2005: 56-63

Mulyana, 2005: 63 Tugas Individu: Identifikasi Wacana berdasarkan sifat dan isi dengan memanfaatkan wacana yang mereka kliping
13.
Menerapkan pendekatan analisis wacana kritis Mampu menganalisis wacana berdasarkan beberapa pendekatan utama dalam analisis wacana kritis

Mampu menjelaskan kedudukan analisis wacana Membaca pengertian tentang analisis wacana kritis, karakteristik analisis wacana kritis, dan pendekatan utama dalam analisis wacana kritis.
Pengertian analisis wacana kritis
Karakteristik analisis wacana kritis
Pendekatan utama analisis wacana kritis. Eriyanto, 2006: 3—17 Tugas Individu: Penerapan Prinsip Analogi dan Penafsiran Lokal
14.
menerapkan metode analisis wacana kritis Theo Van Leeu Mampu menganalisis wacana dengan metode Theo van Leeuwen


Membaca tentang cakupan metode Theo van Leeuwen

menganalisis wacana dengan menerapkan metode Theo van Leeuwen
Metode Theo van Leeuwen
Eriyanto, 2006: 171—196 Tugas Kelompok (2 orang): menganalisis wacana dengan 2 metode (:Theo van Leeuwen)
15.
menerapkan metode analisis wacana kritis Theo Van Leeu
(lanjutan) Mampu menganalisis wacana dengan metode Theo van Leeuwen
Membaca tentang cakupan metode Theo van Leeuwen

menganalisis wacana dengan menerapkan metode Theo van Leeuwen
Metode Theo van Leeuwen
Eriyanto, 2006: 171—196 Tugas Kelompok (2 orang): menganalisis wacana dengan 2 metode (:Theo van Leeuwen)
16.
Ujian Akhir Semester Portofolio: Penyajian Contoh Klipping Wacana
Portofolio: Penerapan Metode Analisis Wacana

Nilai akhir yang diperoleh mahasiswa berasal dari:
1. kehadiran : 10 %
2. partisipasi : 10 %
3. tugas-tugas : 30%
4. ujian tengah semester : 25 %
5. ujian akhir semester : 25 %

Secara umum, perkuliahan ini dilaksanakan dalam bentuk diskusi (kelompok dan kelas). Hanya pertemuan pertama saja yang dilakukan secara klasikal. Pada saat pertemuan pertama dosen memberikan penjelasan tentang pokok bahasan pertama. Selanjutnya, setiap kelompok mempresentasikan hasil bacaannya sesuai dengan tugas yang diberikan.
Tugas-tugas dalam mata kuliah ini terdiri atas tugas bacaan (Books Report) yang dilaporkan setiap minggu dalam diskusi kelas dan atau kelompok. Di samping itu, ada lagi tugas aplikasi dalam bentuk penerapan metode analisis wacana untuk menganalisis berbagai jenis wacana, dan juga tugas dalam bentuk penelitian sederhana. (Tugas-tugas ini akan dijabarkan oleh dosen pembina mata kuliah)












ATURAN KELAS
1. Kehadiran minimal 80 % (13 kali pertemuan). Jika kehadiran kurang dari 13 kali pertemuan tidak dibenarkan mengikuti ujian akhir semester.
2. Tugas harus diserahkan sesuai dengan jadwal yang sudah ditentukan. Tugas yang terlambat diserahkan akan mengurangi nilai
3. Dosen dan mahasiswa bertekad untuk tidak terlambat. Keterlambatan hanya diberi toleransi 15 menit.
4. Jika mahasiswa terpaksa tidak hadir harus memberitahukan dengan mengirim surat.
5. Partisipasi dalam bentuk keaktifan dalam mengikuti diskusi (bertanya, menjawab, memberikan komentar) sangat diharapkan karena dinilai sesuai dengan bobot yang sudah ditentukan.
6. Penilaian berdasarkan kepribadian juga dilakukan terutama dalam perkuliahan.
7. Handphone selama perkuliahan dinonaktifkan.
READ MORE - Silabus Analisis Wacana

Senin, 03 Januari 2011

KOMUNITAS PENUTUR (SPEECH COMMUNITIES)

A. Pendahuluan
Bahasa adalah milik individu dan sosial, dalam artian bahwa setiap individu bisa saja menggunakan bahasa yang sama atau logat yang sama atau jenis yang sama. Contohnya, untuk menggunakan kode atau bahasa yang sama dan dalam hal keanggotaan dalam komunitas penutur, sebuah term yang mungkin dikembangkan dari bahasa Di dalam konsep komunitas penutur yang akan kita bahas, terdapat beberapa kesulitan untuk menjelaskan hal-hal yang berkaitan dengan komunitas penutur, terutama di dalam menjelaskan konsep dari komunitas penutur itu sendiri.



B. Pembahasan
1. Defenisi dan Hal-hal yang Berhubungan dengan Komunitas Penutur
Komunitas penutur kita, apapun itu, eksis dalam dunia nyata. Akibatnya, beberapa pengamatan alternatif harus dikembangkan dari komunitas penutur, satu hal yang membantu untuk penelitian bahasa di dalam masyarakat yang lebih baik dibandingkan dengan kebutuhan abstrak dari teori linguistik.
Defenisi komunitas penutur selama ini oleh para ahli selalu didasari melalui karakteristik atau ciri khasnya, kita harus mengakui hubungan yang tak terpisahkan oleh setiap defenisi yang menyatakan bahwa menggunakan menggunakan ciri khusus bahasa adalah bahasa milik bersama, bukan milik individu. Kita juga harus memahami bahwa menggunakan ciri khas bahasa saja untuk menentukan apa yang disebut komunitas bahasa atau apa yang bukan komunitas bahasa harus dibuktikan, sepanjang itu memungkinkan, karena orang-orang tidak akan membutuhkan hubungan yang langsung di antara ciri khas bahasa A, B, C dan seterusnya dan komunitas bahasa X. Apa yang bisa kita yakini adalah bahwa si pengguna bahasa benar-benar menggunakan ciri khas sebuah bahasa untuk menyatakan identitasnya tergabung di dalam sebuah kelompok, dan berbeda dengan kelompok lainnya, pengguna bahasa lain, tapi mereka menggunakan ciri khas bahasa itu dalam: sosial, budaya, politik, suku, dan lainnya.
Labov, mengenai komunitas penutur, ia menekankan dari kegunaan komunitas penutur untuk sebuah pencarian dari ciri khas yang membuat setiap individu merasa bahwa mereka adalah anggota dari komunitas yang sama. Sedangkan Milroy mengemukakan, bahwa komunitas penutur adalah konsep yang sangat abstrak karena sebagian norma yang digunakan komunitas bisa saja bukan sebuah bahasa di alam dan bahkan norma bahasa itu sendiri mungkin terbagi-bagi ke dalam beberapa kelompok. Selanjutnya, Bloomfield menyatakan komunitas penutur adalah sekelompok orang yang berinteraksi di dalam kaitannya dengan bahasa. Akan tetapi, Hymes, tidak sependapat dengan apa yang dikemukakan oleh para ahli tersebut mengenai komunitas penutur. Hymes berpendapat bahwa komunitas penutur tidak bisa diartikan semata-mata melalui kegunaan komunitas penutur. Tetapi, cara orang-orang melihat bahasa yang mereka gunakan juga penting, yaitu bagaimana logat mereka, bagaimana mereka menentukan fakta bahwa mereka menggunakan satu bahasa yang lebih disenangi dari bahasa lainnya, dan bagaimana mereka menentukan batasan-batasan bahasa. Jadi, dapat disimpulkan konsep atau defenisi komunitas penutur sampai saat ini sulit untuk dijelaskan.
Akan tetapi, berdasarkan pendapat para ahli di atas mengenai defenisi komunitas penutur dapat disimpulkan sebagai berikut, bahwa komunitas penutur adalah sekelompok orang yang tidak hanya berinteraksi di dalam kaitannya dengan bahasa, tapi tentang bagaimana cara orang-orang melihat bahasa yang mereka gunakan juga penting, yaitu bagaimana logat mereka, bagaimana mereka menentukan fakta bahwa mereka menggunakan satu bahasa yang lebih disenangi dari bahasa lainnya, dan bagaimana mereka menentukan batasan-batasan bahasa.

2. Komunitas yang Bersilangan
Fakta bahwa masyarakat menggunakan ekspresi seperti di dalam menggunakan bahasa New York, bahasa London, dan bahasa Afrika Selatan mengindikasikan bahwa mereka memiliki beberapa pendapat, bagaimana tipikal atau karakteristik dari setiap bahasa yang dimiliki oleh daerah tersebut. Maksudnya, apa yang seharusnya menjadi bagian dari komunitas penutur kadangkala sulit untuk dijelaskan. Contoh, Rosen (1980) telah menunjukkan beberapa masalah yang ditemukannya di kota London yang dikenal memiliki sebuah komunitas penutur dan menggambarkan ciri khas apa yang ada pada bahasa di daerah tersebut. Rosen mengatakan, bahwa beberapa kota tersebut tidak dianggap sebagai peta kerja, dari daerah ke daerah, tidak hanya karena bahasa dan dialek tidak memiliki penyebaran geografis yang sederhana, tetapi juga karena interaksi di antara mereka tidak jelas atau kabur dengan apapun batasan yang dibuat. Baik model geografis dan kelas sosial; menjadi palsu, walaupun setiap mereka berkontribusi kepada sebuah pemahaman. Bahwa, pada beberapa daerah, dialek dan bahasa memulai pengaruh pada setiap orang. Jadi, dapat disimpulkan kota London adalah sebuah komunitas penutur yang terlalu luas dan saling bersilangan.
Setiap komunitas memiliki keunikan multi bahasanya tersendiri dan tidak ada bahasa yang disamakan penyebarannya dalam komunitas residensial yang spesifik. Beberapa situasi tidak memiliki keunikan. Banyak daerah di bagian dunia yang lain memiliki beberapa karakter bahasa yang sama. Contoh, Balkans, daerah Selatan India, Papua Nugini. Persamaan mendasar dari komunitas bahasa mungkin mudah terlihat pada daerah yang lebih modern, berpegang teguh bahwa bahasa yang digunakan untuk mengekspresikan kebangsaannya dan menjadikan bahasa tersebut sebagai standar untuk mengalahkan Negara pesaing.
Sebuah komunitas atau kelompok akan menjadi satu kesatuan bagi sebuah pencapaian, pencapaian ini menjadi cukup berbeda dari pencarian kelompok lain. Akibatnya, seseorang bisa memiliki pada suatu waktu oleh banyak kelompok atau komunitas tergantung kepada pandangan akhirnya.
Konsep dari komunitas penutur tentunya menjadi praktis karena masing-masing individu mendapatkan keuntungan untuk menyatakan identitasnya dengan bebas. Seperti yang dikemukakan oleh Bolinger, tak ada batasan di mana manusia berkumpul bersama untuk menyatakan identifikasi pribadi, kenyamanan, keuntungan, kesenangan, atau tujuan lain seperti yang ada pada umumnya. Akan tetapi, tidak ada batasan untuk jumlah dan varietas dari komunitas penutur yang ditemukan di dalam masyarakat.
Setiap individu adalah anggota dari berbagai komunitas penutur yang berbeda. Hal yang menarik adalah ketika seseorang bisa membedakan apakah ia termasuk ke dalam komunitas yang satu atau komunitas yang lainnya berdasarkan ciri khas yang dimiliki komunitasnya.

3. Jaringan dan Daftar Keanggotaannya
Cara lain di dalam melihat bagaimana seorang individu berhubungan dengan individu lain di dalam masyarakat adalah dengan mempertanyakan di dalam jaringan apa individu tersebut berpatisipasi. Maksudnya, bagaimana dan di dalam kesempatan apa individu A berinteraksi dengan B, kemudian dengan C, dan kembali dengan D? seberapa seringkah bermacam-macam hubungan: apakah A lebih sering berinteraksi dengan B daripada dengan C atau D? seberapa luaskah hubungan A dengan B secara sadar dari berapa banyak individu yang berinteraksi baik dengan A maupun B di dalam aktivitas apapun yang membuat mereka bersama di dalam situasi?
Jaringan bercabang adalah sesuatu di mana individu diikat satu sama lainnya dalam sebuah varietas. Contohnya, melalui kerja sama, berbaur bersama dan bahkan ada kemungkinan perkawinan campuran. Hal tersebut membuat hubungan lokal yang intens. Sebaliknya, pada jaringan tunggal orang-orang berhubungan satu sama lainnya di dalam satu cara: mereka bisa bekerja bersama, atau berbaur bersama, atau tinggal berdekatan, tapi hanya satu yang menghubungkan. Pada beberapa kesempatan seseorang harus memiliki akses kepada beberapa jaringan tunggal yang berbeda, sehingga hubungan dengan keluarga, rekan kerja, dan rekan di waktu senggang tidak bertubrukan, selama mereka orang-orang yang berbeda. Kadangkala jaringan ini terlihat lemah dan bercampur baur. Konsep jaringan ini adalah hal yang sangat berguna, karena fokus kepada hubungan individu di dalam masyarakat luas melalui kontak individu yang dialami seseorang pada kelompok yang abstrak dan diri khas yang statistik.
Cukup jelas bahwa tidak ada dua individu yang sepenuhnya sama dalam kemampuan berbahasanya, juga tidak ada dua situasi sosial yang sepenuhnya sama di antara orang-orang yang dipisahkan dari kelas sosial asli secara bertahap melalui pekerjaan dan melalui beberapa faktor seperti agama, jenis kelamin, bangsa dan Negara, perbedaan fisik misalnya perbedaan keterampilan berbahasa (lisan atau tulisan), dan melalui ciri-ciri khas kepribadian.
Konsep dari repertoire bahasa bisa menjadi sangat berguna ketika diterapkan pada individu daripada diterapkan kepada kelompok. Kita bisa menggunakannya untuk menggambarkan kompetensi kreatif dari pengguna bahasa individu. Setiap orang kemudian akan memiliki perbedaan repertoire bahasa atau daftar bahasa. Reportaire bahasa itu sendiri adalah kemampuan seseorang atau individu menguasai berbagai bahasa.
Fokus kepada repertoire dari individu dan secara spesifik pada ilmu bahasa yang tepat yang mereka pilih di dalam keadaan yang telah dijelaskan, benar-benar terlihat bagaimana kita ditawarkan beberapa harapan di dalam menjelaskan bagaimana orang-orang menggunakan pilihan bahasa untuk membatasi diri mereka sendiri di setiap jalannya. Sebuah pilihan seorang pengguna bahasa melalui beberapa bunyi, kata, atau ekspresi menandakan di dalam beberapa cara. Bisa dikatakan ‘saya seperti kamu’ atau ‘saya tidak seperti kamu’. Ketika pengguna bahasa juga memiliki sejenis jarak yang mereka pilih dan bahwa pilihan itu sendiri membantu untuk mendefinisikan keadaan, kemudian banyak perbedaan yang mungkin timbul.



C. Kesimpulan
Komunitas penutur bisa menjadi hal yang sulit untuk didefenisikan. Hal ini disebabkan adanya perbedaan cara pandang para ahli di dalam memahami dan menafsirkannya, sehingga sampai saat ini konsep atau defenisi komunitas penutur sulit untuk dijelaskan. Komunitas penutur tidak hanya dilihat dari faktor bahasa itu sendiri, melainkan juga berdasarkan logat atau dialek yang individu gunakan. Selain itu juga dilihat dari faktor geografis, sosial, etnik, agama, dan lainnya, karena faktor-faktor ini yang nantinya akan menentukan apakah komunitas penutur di suatu daerah bersifat statis atau berubah-ubah.

Daftar Rujukan
Wardhaugh, Ronald. 1986. An Introduction to Sosiolinguistics. New York: Basil Blackweel.
READ MORE - KOMUNITAS PENUTUR (SPEECH COMMUNITIES)