Kamis, 09 Desember 2010

Analisis Makna Konotatif dalam kumpulan Artikel The Innocent Rebel: Sisi Aneh Orang Jakarta Karya Andre Syahreza

ABSTRAK


Anggia Pratiwi. 2007. “Analisis Makna Konotatif dalam Kumpulan Artikel The Innocent Rebel: Sisi Aneh Orang Jakarta Karya Andre Syahreza”. Skripsi. Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Bung Hatta.


Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan bentuk ragam makna konotatif kolektif yang terdiri dari konotasi tinggi, konotasi ramah, konotasi berbahaya, konotasi tidak pantas, konotasi tidak enak, konotasi kasar, konotasi keras, konotasi bentukan sekolah, konotasi kanak-kanak, konotasi hipokoristik, dan konotasi bentuk nonsens. Teori-teori yang digunakan sebagai pedoman dalam penelitian ini adalah jenis-jenis makna menurut Abdul Chaer (1994) dan ragam makna konotatif kolektif menurut Henry Guntur Tarigan (1985).
Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan menggunakan metode deskriptif. Berdasarkan hasil analisis data 7 ragam makna konotatif kolektif, yaitu konotasi tinggi (79 data), seperti aikon, presiden, supply, post-modernis, dan ideologi. Konotasi ramah (43 data), seperti ngobrol, tengok, singgah, gini, dan pegi. Konotasi berbahaya (10 data), seperti tahayul, kepercayaan-kepercayaan purba, setan, tumbal, dan secte gothic. Konotasi tidak pantas (10 data), seperti kerangkeng, mati, gila seks, pangeran vagina, si parasit lajang, dan mahluk seksual. Konotasi tidak enak (39 data), seperti kelainan jiwa, gangguan jiwa, pelacur, wanita-wanita malam, pecandu, dan nyontek. Konotasi kasar (21 data), seperti pengacau, begundal, perempuan nakal, haram, cewek-cewek nakal, istri simpanan, gembel, dan gelandangan. Konotasi keras (28 data), seperti naik pitam, berapi-api, sedramatis, badut-badut kapitalisme, masa silam, dan lautan aturan. Sedangkan 4 bentuk ragam makna konotatif yang lain, yaitu konotasi bentukan sekolah, konotasi kanak-kanak, konotasi hipokoristik, dan konotasi bentuk nonsens tidak ditemukan. Nilai rasa yang terdapat dalam konotasi bentukan sekolah tidak dapat dimaknai secara jelas, karena selain bentuk bahasanya terlalu formal (nilai rasa yang dipelajari disekolah) juga sulit membedakannya dengan nilai rasa biasa. Konotasi kanak-kanak, konotasi hipokoristik, dan konotasi bentuk nonsens sudah tidak lazim lagi digunakan.
Berdasarkan hasil analisis data dapat disimpulkan bahwa dalam kumpulan artikel The Innocent Rebel: Sisi Aneh Orang Jakarta karya Andre Syahreza lebih banyak menggunakan kata-kata, istilah-istilah, dan ungkapan-ungkapan yang memiliki 7 makna konotatif kolektif, yaitu konotasi tinggi, konotasi ramah, konotasi berbahaya, konotasi tidak pantas, konotasi tidak enak, konotasi kasar, dan konotasi keras. Karena makna-makna konotasi tersebut lebih menarik, mudah dipahami oleh masyarakat secara umum, karena sering ditemukan dalam kehidupan sehari-hari.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar